Selasa, 23 Juni 2009

Akanah juga akan seperti itu????

Ya tanggal 23 Juni-pun berlalu, tetapi ketakutan dan kekhawatiran yang terjadi di hari itu masih belum juga mau berlalu.
Hingar bingar orang yang berpesta terdengar jelas hingga dalam kamarku, kerasnya Bang Iwan menyanyi di radioku pun kalah. Orang-orang sibuk mempersiapkan hari kemerdekaan bagi "Sang Penghianat" itu.
Altar pun beraroma wewangian bunga, dan gemuruhnya nada pujian, pujian kepada siapa aku gak tau! gaun panjang itupun setia mengikuti 'tuan'nya yang berjalan ke depan, bola mata semua tertuju kepada sang permaisuri dan pangeran baru itu. Mulut pun mulai komat-kamit di depan Meja Putih itu, berucap mantra untuk keabadian kisah mereka. Sumber mata air pun bermunculan seketika di antara bola mata mereka, tangis haru. Diluar sana air mata mengalir dengan derasnya mencoba menghanyutkan masa lalu itu, kisah yang telah mengkristal jadi karang itupun tegar tak goyah oleh derasnya air mata, tetap di dalam hati dan tak akan bisa hanyut dan tergoyahkan, menjadi Dongeng Abadi.
Kilauan cahayapun tak henti-hentinya bersinar bagai kilat, sang fotograferpun tersenyum "kisah mereka membuat dapurku tetap ngebul!". Kini semua sudah usai.....


Aku yang hanya bisa menunggu hingga Dongeng itupun terjadi dalam kehidupanku, menunggu dengan cemas, seolah menanti Malaikat Maut yang tidak pernah tau kapan akan datang menjemput.

Terlintas jatuhnya air hujan dari mata sang Bunda dan Bapa yang kecewa terhadap perjalanan Puteranya....

Terbayang ASMARAGAMA Sang Pangeran baru, seperti asmaragama'ku dengan sang permaisuri dulu, ya dulu waktu masih dalam satu "Kerajaan Cinta", berpeluh, terhempas, kembali ber'satu' seakan waktu tak akan pernah cukup untuk berdua.

Terngiang jeritan SANG PUTRI yang tengah menahan gelora asmara

Terlintas kembali 'Bumi yang berguncang' ketika Sang Bidadari menumpahkan 'amarah cintanya', sungguh DAHSYAT seakan mampu meruntuhkan langit !

Dingin seperti Raga Sang Hawa yang terlelap pulas setelah memenangkan pertempuran yang beulangkali melawan 'geloranya', peluh air kehidupan merembas deras dari sang Raga, hembusan nafas pelan keluar dari mulut yang sedari tadi 'mendesah' menghantarkan jeritan Sang Jiwa yang sedang melayang menghantarkan Sang Jiwa menuju Sorga'nya dunia.

Terlelap setelah menumpaskan peparangannya, sirna semua gelora yang sedari tadi tertahan, hanya Sang Raga dan Sang Jiwa, tak ada sedikitpun yang tertinggal, suci benar-benar hanya sang Raga itu. Semua perlengkapan perangpun telah di hempaskannya.

Raga Sang Hawa yang tergolek di samping Sang Adam, Jiwa mereka masih menikmati Sorga dunia yang masih tersisa hingga jeritan Sang Unggas Pejantan pun membangunkan mereka, bangun! Ternyata ini kenyataan bukan sekedar mimpi.

Aroma wangi Raga Sang Dewi pun yang telah usai berperang masih merebak, tercium hingga sekarang. Aroma puspa yang selalu hadir menemani setiap pertempurannya.

Terlelap.... terus terlelap....
Hingga kisahpun harus hilang dengan sendirinya.....

kini, aku tinggal menunggu
menunggu orang bersorak - sorai...
Menunggu mereka berpesta merayakan kemenangannya...
Kemenangan atas hatiku, yang telah di hancurkannya....

Kini tinggal menunggu Sang Khalik berucap Mukjizat
agar aku bisa bersanding kembali bersama Sang Permaisuri itu....
Atau aku akan berkisah serupa dengan "Si Burung Pinguin" yang sendiri di kutub menahan dingin dan sepinya hidup.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar